Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani adalah seorang pendidik ahlus sunnah wal jamaah dan cahaya dari rumah nabi Sholallahu Alaihi wassalam di jaman ini
Beliau seorang alim kentemporer dalam ilmu hadits, alim mufassir Quran, Fiqih, aqidah, tasawwuf dan sirah Nabawi. Abuya Muhammad Alawi al Maliki adalah seorang yang sangat dihormati dikalangan ahlus sunnah wal jamaah di ibu dari segala kota
baik ayahandanya maupun kakek beliau adalah para imam dan pimpinan para imam juga pimpinan para khotib di kota suci Mekkah. Beliau menuliskan sebuah kitab yang sangat fenomenal dan sekarang menjadi rujukan kalangan ahlus sunnah wal jamaah yaitu Mafahim Yajibu an Tushahhah
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki dididik semenjak kecil oleh ayahanda beliau, selain mendapat didikan pula dari ulama ulama Mekkah terkemuka lainnya seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Sayf, Sa'id Yamani dan masih banyak lagi.
Beliau memperoleh gelar Ph.D nya dalam studi hadits dengan penghargaan tertinggi dari Jami'al Azhar di Mesir. Saat beliau baru berusia 25 tahun. Lalu serangkaian perjalanan dalam rangka mengejar studi hadits ke Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman, dan juga anak benua Indo Pakistani telah Abuya lakukan,
dan beliau memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan rantai transmissi (isnad) dari Imam Habib Ahmad Mashhur al Haddad, Sayyid Hasanayn Makhluf, Ghumari bersaudara dari Maroko, Syaikh Dyauddin Qadiri di madinah, Mawlana Zakariyya Kandihlawi dan banyak lagi lainnya
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani sudah mulai mengajar sebelum baligh, saat usianya sangat muda. Atas perintah ayahandanya, as-Sayyid Alawi bin Abbas al-maliki. As-Sayyid Alawi memerintahkan puteranya itu agar mengajar setiap kitab yang sudah dikhatamkannya.
Bahkan sebagai pelajaran dan untuk memberi dukungan kepada puteranya, as-Sayyid Alawi menyuruh agar menghadiri majelis putranya
Beliau senantiasa tekun mengajar ilmu=ilmu Islam dan sejarah, sehingga menjadi rujukan manusia untuk meminta fatwa atau mendengarkan setetes dari samudera ilmu yang Allah anugerahkan kepadanya
Halaqah ilmiah beliau cukup dikenal oleh penduduk Makkah. Halaqoh ini merupakan tradisi ilmiah turun temurun selama ratusan tahun lamanya yang senantiasa ditekuni oleh datuk-datuk beliau yang semula bertempat di Masjidil Haram dan pada akhirnya dipindahkan ke kediaman beliau
Perjalanan menuntut ilmu merupakan jalan kebanyakan ulama. Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki juga turut tidak ketinggalan. Beliau bermusafir sejak usia muda untuk menuntut ilmu dari mereka yang memiliki ilmu
Beliau telah bermusafir dengan banyak ke Afrika Utara, Mesir, Syria, Turki, dan rantau Indo-Pak untuk belajar dari alim-ulama yang hebat, bertemu para Wali Allah, menziarahi masjid-masjid dan maqam-maqam, serta mengumpulkan manuskrip-manuskrip dan kitab
Di setiap tempat ini beliau menemui para ulama dan auliya yang agung, dan mengambil faidah daripada mereka. Mereka juga turut tertarik dengan pelajar muda dari Makkah ini dan memberi perhatian istimewa untuk beliau
Kebanyakan mereka telah pun sangat menghormati bapa beliau yang alim, dan merupakan satu kebanggaan memiliki anak beliau sebagai murid
Di Tanah Arab, tanah kelahirannya, dan dalam pemusafiran ilmunya, Abuya Sayyid Muhammad mendapat lebih dari 200 ijazah dari alim-ulama teragung di zamannya, di setiap cabang ilmu Islam.
Ijazah beliau sendiri, yang beliau berikan kepada murid-muridnya adalah antara yang paling berharga dan jarang di dunia, menghubungkan anak-anak muridnya dengan sejumlah besar para ulama agung. Para Masyaikh yang memberikan Abuya Sayyid Muhammad ijazah-ijazah mereka merupakan ulama besar dari seluruh dunia Islam
Beliau menempatkan sejumlah besar pelajar di rumahnya sendiri, menyediakan untuk mereka makan minum, penginapan, pakaian, kitab-kitab serta segala keperluan mereka
Sebagai balasan, mereka hanya diminta mengikuti peraturan dan etika penuntut ilmu agama yang suci. Pelajar-pelajar ini biasanya menetap bersama beliau bertahun-tahun lamanya, mempelajari pelbagai cabang ilmu Islam, dan seterusnya kembali ke negeri masing-masing
Ratusan dari para pelajar telah menuntut ilmu kepada beliau dan telah menjadi pelopor pengetahuan Islam dan kerohanian di negara mereka, terutamanya di Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman dan Dubai
Beliau menerimanya lantas menduduki kedudukan yang telah diduduki oleh keluarganya lebih dari seabad. Beliau juga kadang kala mengajar di masjid nabi di Madinah. Kuliah pengajian beliau merupakan kuliah yang paling ramai dihadiri di kedua Tanah Haram
Bagaimanapun pada awal tahun 80-an, beliau telah mengosongkan kedudukan mengajarnya di Universitas Ummul Qura juga di Masjidil Haram, hal ini disebabkan fatwa dari sebagian ulama Fanatik WAHHABI, yang menganggap keberadaan beliau sebagai ancaman kepada ideologi dan kekuasaan mereka
Beliau amat menentang dan kritis terhadap mereka yang digelari reformis (Islah) abad ke-20 yang dengan mudah ingin menghapuskan Islam generasi terdahulu menggunakan nama Islam suci
Beliau juga memahami bahwa "mencela" penganut Ash'ari, atau penganut Hanafi, Syafi'e dan Maliki, penganut sufi, seperti yang dilakukan oleh sebagian kelompok di jaman ini adlah sama dengan mencela keseluruhan umat Islam ribuan tahun yang lampau. Itu hanya merupakan sifat pendekatan musuh Islam, dan bukannya saudara sesama muslim
Pemahaman yang benar berkenaan Al-Quran dan Sunnah ialah pemahaman yang berdasarkan kepada tafsiran para ulama islam, dan bukan dengan prasangka kelompok yang ekstrim di zaman modrn ini, yang tidak berpikir dua kali sebelum mencela mayoritas Muslim di seluruh dunia
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki juga berpendapat mayoritas umat ini adalah baik. Kelompok kelompok minoritas yang fanatik dengan pemikiran kelompoknya saja yang perlu mengkaji kembali pemahaman ekstrim mereka
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani merupakan pendukung sufi yang berdasarkan syariah, sufi para Auliya' agung dan para shalihin dari umat ini. Beliau sendiri merupakan guru ruhani di tingkat yang tertinggi, melalui para masyaikh thariqah yang agung.
Sayyid Muhammad juga menganjurkan ummat Islam perlu menggunakan segala upaya untuk meningkatkan taraf umat ini dari sisi kerohanian, kemasyarakatan dan juga material
Pandangan dan pendirian Sayyid Muhammad ini digambarkan dalam tulsannya yang terkenal, Mafahim Yajib An Tusahhah (Paham Yang Perlu Diluruskan), sebuah buku yang mendapat penghargaan secara luas di selruuh dunia Islam dan diiktiraf tinggi di lingaran para ulama
Tidak diragukan lagi, kehadiran Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani merupakan rahmat buat ummat ini. Beliau merupakan warisan kekasih kita nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam
Masyarakat Makkah dan madinah teramat mencintai beliau seperti mana dilihat pada saat mensolati jenazah beliau
Siapa saja yang pernah menemui beliau akan jatuh cinta kepada beliau. Rumahnya di kota suci Makkah senantiasa terbuka sepanjang tahun untuk ulama dan para penuntut ilmu, juga ribuan orang yang ingin berziarah kepadanya
Beliau juga tidak kenal arti takut dalam berkata yang benar dan telah mengalami detik-detik kesulitan karean kebenaran. Walau bagaimanapun pertolongan Allah senantiasa menyertai beliau. RadhiAllahu Anhu WaArdhaah. Amiin
Biografi dari kehidupan Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani ini bisa dirujuk pada tulisan yang hebat berjudul, Al-Maliki'Alim Hijjaz, karangan penulis dan sejarawan terkenal Makkah, Dr Zuhayr Kutbi
Wallahu A'lam. Wassallahu Ala Sayidina Rasulillah WaAla Alihi Wasohbihi Waman Walah,
Walhamdulillahi Rabbil'Alamin
Beliau seorang alim kentemporer dalam ilmu hadits, alim mufassir Quran, Fiqih, aqidah, tasawwuf dan sirah Nabawi. Abuya Muhammad Alawi al Maliki adalah seorang yang sangat dihormati dikalangan ahlus sunnah wal jamaah di ibu dari segala kota
baik ayahandanya maupun kakek beliau adalah para imam dan pimpinan para imam juga pimpinan para khotib di kota suci Mekkah. Beliau menuliskan sebuah kitab yang sangat fenomenal dan sekarang menjadi rujukan kalangan ahlus sunnah wal jamaah yaitu Mafahim Yajibu an Tushahhah
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki dididik semenjak kecil oleh ayahanda beliau, selain mendapat didikan pula dari ulama ulama Mekkah terkemuka lainnya seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Sayf, Sa'id Yamani dan masih banyak lagi.
Beliau memperoleh gelar Ph.D nya dalam studi hadits dengan penghargaan tertinggi dari Jami'al Azhar di Mesir. Saat beliau baru berusia 25 tahun. Lalu serangkaian perjalanan dalam rangka mengejar studi hadits ke Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman, dan juga anak benua Indo Pakistani telah Abuya lakukan,
dan beliau memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan rantai transmissi (isnad) dari Imam Habib Ahmad Mashhur al Haddad, Sayyid Hasanayn Makhluf, Ghumari bersaudara dari Maroko, Syaikh Dyauddin Qadiri di madinah, Mawlana Zakariyya Kandihlawi dan banyak lagi lainnya
Nasab Dan Silsilah Sayyid Muhammad Bin Alawi
Terlahir di Makkah al-Mukarromah, pada tahun 1367 H/ 1947 M. Sebuah kota yang mulia, tepatnya di kawasan Babus Salam tempat kediaman ayahnya sendiri. Beliau adalah asy-Syaikh al-Imam al-Allamah, MuMuhaddits al-Hijaz, salah satu keturunan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam al-Hasani
Nasabnya yang mulia bersambung terus hingga sampai pada Sayyidinia Idris al-Azhari bin Idris al-Akbar bin Abdullah al-Kamil bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan as-Sibth bin al-Imam Ali bin Abi Thalib, suami as-Sayyidah Fathimah az-Zahra putri Baginda Rasulullah Muhammad SAW.
Nasabnya yang mulia bersambung terus hingga sampai pada Sayyidinia Idris al-Azhari bin Idris al-Akbar bin Abdullah al-Kamil bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan as-Sibth bin al-Imam Ali bin Abi Thalib, suami as-Sayyidah Fathimah az-Zahra putri Baginda Rasulullah Muhammad SAW.
Keluarga beliau dikenal sebagai keluarga yang berilmu dan mempunyai wibawa di kota Mekkah. Ayahanda beliau al-Imam as-Sayyid Alawi al-Maliki dan kakek beliau As-Sayyid Abbas al-Maliki adalah tokoh yang tersohor, terkemuka dan disegani oleh sekian banyak ulama yang mengajar di Masjidil Haram
Ayahanda beliau sendiri, as-Sayyid Alawi al-Maliki adalah figur yang sangat termasyhur diantara sekian banyak ulama yang mengajar di Masjidil Haram. Disana, beliau telah mengajar selama lebih dari 40 tahun, yaitu dari tahun 1347 H sampai tahun 1391 H. Dan banyak sekali para ulama dari Asia Tenggara mengikuti atau berguru di Halaqoh Majelis Ta'lim as-Sayyid Alawi al-Maliki
Silsilah keluarga Abuya Sayyid Muhammad Ibn Alawi Al maliki Al Hasani merupakan salah satu keluarga yang paling dihormati di Makkah dan telah melahirkan alim ulama besar di Makkah, yang telah mengajar sejak lama. Lima orang nasab atas dari Abuya telah menajdi Imam Mazhab Maliki di Haram Makkah
Datuk beliau, As-Sayyid Abbas Al-maliki, merupakan Mufti dan Qadhi Makkah dan khatib di Masjidil Haram. Beliau memegang jabatan ini ketika pemerintahan Utsmaniah serta Hashimiah, dan tetap dipercaya mengemban amanah jabatan tersebut setelah kerajaan Saudi didirikan. Raja Abdul Aziz bin Sa'ud sangat menghormati beliau. Riwayat hidup beliau boleh dirujuk pada kitab Nur An-Nibras fi Asanid Al-Jadd As-Sayyid Abbas oleh cucunya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki
Raja Faisal sendiri saat itu tidak akan membuat suatu keputusan berkaitan Makkah kecuali setelah meminta nasihat daripada As-Sayyid Alawi (ayahanda Bauya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani)
Ketika As Sayyid Alawi meninggal dunia pada tahun 1971, upacara pemakamannya merupakan yang terbesar di Makkah sejak seratus tahun. Selama 3 hari setelah kematian beliau. Stasiun Radio saudi setempat hanya menyiarkan bacaan Al-Quran, sesuatu yang tidak pernah dilakukan kecuali hanya untuk menghormati beliau
Kehidupan As-Sayyid Alawi bisa dirujuk pada biografi beliau yang berjudul Safahat Musyriqah min Hayat Al-Imam As-Sayyid As-Syarif Alawi bin Abbas Al-Maliki oleh putranya, yang juga merupakan adik dari As-Sayyid Muhammad yaitu As-Sayyid Abbas Al-Maliki, juga seorang ulama, tetapi lebih dikenali dengan suara merdunya dan pembaca Qasidah yang paling utama di Arab Saudi. Biografi ini mengandung tulisan berkenaan As-Sayyid Alawi dari ulama di seluruh dunia Islam
Keluarga Al maliki juga telah melahirkan banyak lagi ulama lain. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang keluarga Sayyid Maliki, bisa merujuk pada tulisan-tulisan berkaitan sejarah Makkah dan ulamanya di abad-abad mutakhir
Silsilah keluarga Abuya Sayyid Muhammad Ibn Alawi Al maliki Al Hasani merupakan salah satu keluarga yang paling dihormati di Makkah dan telah melahirkan alim ulama besar di Makkah, yang telah mengajar sejak lama. Lima orang nasab atas dari Abuya telah menajdi Imam Mazhab Maliki di Haram Makkah
Datuk beliau, As-Sayyid Abbas Al-maliki, merupakan Mufti dan Qadhi Makkah dan khatib di Masjidil Haram. Beliau memegang jabatan ini ketika pemerintahan Utsmaniah serta Hashimiah, dan tetap dipercaya mengemban amanah jabatan tersebut setelah kerajaan Saudi didirikan. Raja Abdul Aziz bin Sa'ud sangat menghormati beliau. Riwayat hidup beliau boleh dirujuk pada kitab Nur An-Nibras fi Asanid Al-Jadd As-Sayyid Abbas oleh cucunya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki
Raja Faisal sendiri saat itu tidak akan membuat suatu keputusan berkaitan Makkah kecuali setelah meminta nasihat daripada As-Sayyid Alawi (ayahanda Bauya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani)
Ketika As Sayyid Alawi meninggal dunia pada tahun 1971, upacara pemakamannya merupakan yang terbesar di Makkah sejak seratus tahun. Selama 3 hari setelah kematian beliau. Stasiun Radio saudi setempat hanya menyiarkan bacaan Al-Quran, sesuatu yang tidak pernah dilakukan kecuali hanya untuk menghormati beliau
Kehidupan As-Sayyid Alawi bisa dirujuk pada biografi beliau yang berjudul Safahat Musyriqah min Hayat Al-Imam As-Sayyid As-Syarif Alawi bin Abbas Al-Maliki oleh putranya, yang juga merupakan adik dari As-Sayyid Muhammad yaitu As-Sayyid Abbas Al-Maliki, juga seorang ulama, tetapi lebih dikenali dengan suara merdunya dan pembaca Qasidah yang paling utama di Arab Saudi. Biografi ini mengandung tulisan berkenaan As-Sayyid Alawi dari ulama di seluruh dunia Islam
Keluarga Al maliki juga telah melahirkan banyak lagi ulama lain. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang keluarga Sayyid Maliki, bisa merujuk pada tulisan-tulisan berkaitan sejarah Makkah dan ulamanya di abad-abad mutakhir
Mengenal Sosok Abuya Sayyid Muhammad
Beliau adalah salah seorang ulama Islam yang utama pada dasawarsa ini tanpa diragukan lagi, ulama yang paling hihormati dan dicintai di kota suci Makkah.
Sejak kecil hidup dalam keluarga sholeh yang penuhy dengan keberkahan telah mempengaruhi kehidupan beliau. Tumbuh berkembang dengan baik dalam perjalanan hidup, di atas jalan para salaf-salafnya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan langsung dari ayahnya
Pada awal pendidikan, dari ayahnya, beliau telah belajar ilmu nahwu, fiqh, tafsir, hadits dan hifdzul Qur'an. Ayah beliau As-Sayyid Alawi, seorang ulama paling berilmu di Makkah merupakan guru pertama dan utama beliau
Sejak kecil hidup dalam keluarga sholeh yang penuhy dengan keberkahan telah mempengaruhi kehidupan beliau. Tumbuh berkembang dengan baik dalam perjalanan hidup, di atas jalan para salaf-salafnya sesuai dengan tuntunan dan bimbingan langsung dari ayahnya
Pada awal pendidikan, dari ayahnya, beliau telah belajar ilmu nahwu, fiqh, tafsir, hadits dan hifdzul Qur'an. Ayah beliau As-Sayyid Alawi, seorang ulama paling berilmu di Makkah merupakan guru pertama dan utama beliau
Ayahandanya sendirilah yang mendidik dan mengasuh beliau sehingga menjadi seorang yang cerdas dan piawai dalam masalah-masalah keagamaan, mengajar beliau secara pribadi di rumah dan juga di Masjidil Haram, di mana beliau menghafal Al-Quran sejak kecil. Di antara kawan-kawan, beliau masyhur dengan ketekunan, kebaikan dan akhlak yang luhur
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani sudah mulai mengajar sebelum baligh, saat usianya sangat muda. Atas perintah ayahandanya, as-Sayyid Alawi bin Abbas al-maliki. As-Sayyid Alawi memerintahkan puteranya itu agar mengajar setiap kitab yang sudah dikhatamkannya.
Bahkan sebagai pelajaran dan untuk memberi dukungan kepada puteranya, as-Sayyid Alawi menyuruh agar menghadiri majelis putranya
Beliau senantiasa tekun mengajar ilmu=ilmu Islam dan sejarah, sehingga menjadi rujukan manusia untuk meminta fatwa atau mendengarkan setetes dari samudera ilmu yang Allah anugerahkan kepadanya
Halaqah ilmiah beliau cukup dikenal oleh penduduk Makkah. Halaqoh ini merupakan tradisi ilmiah turun temurun selama ratusan tahun lamanya yang senantiasa ditekuni oleh datuk-datuk beliau yang semula bertempat di Masjidil Haram dan pada akhirnya dipindahkan ke kediaman beliau
Pendidikan Lanjutan Dan Perjalanan Mencari Ilmu
Degan arahan ayahandanya yaitu As-Sayyid Alawi, Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al maliki juga turut mempelajari dan mendalami pelbagai ilmu Islam seperti Aqidah, Tafsir, Hadits, Fiqh, Ushul, Mustalah, Nahwu dan lain-lain pada ulama-ulama besar lain di Makkah serta Madinah
Kesemua ulama tersebut telah memberikan ijazah penuh kepada beliau untuk mengajarkan ilmu-ilmunya yang telah dipelajari oleh As Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani
Ketika beliau berumur 15 tahun lagi, Abuya telah mengajar kitab-kitab Hadith dan Fiqh di Masjidil Haram, kepada pelajar-pelajar lain, dengan arahan guru-gurunya. Selain belajar di Makkah, beliau diantarkan oleh ayahandanya untuk menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar As-Syarif
Kesemua ulama tersebut telah memberikan ijazah penuh kepada beliau untuk mengajarkan ilmu-ilmunya yang telah dipelajari oleh As Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani
Ketika beliau berumur 15 tahun lagi, Abuya telah mengajar kitab-kitab Hadith dan Fiqh di Masjidil Haram, kepada pelajar-pelajar lain, dengan arahan guru-gurunya. Selain belajar di Makkah, beliau diantarkan oleh ayahandanya untuk menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar As-Syarif
Beliau menerima ijzah Ph.D dari Al-Azhar ketika berusia 25 tahun, menjadikan beliau warga Arab Saudi yang pertama dan termuda menerima ijazah PhD dari Al-Azhar. Tesis beliau berkenaan hadits telah dianggap cemerlang dan menerima pujian yang tinggi dari alim ulama di Al-Azhar ketika itu, seperti Imam Abu Zahrah
Perjalanan menuntut ilmu merupakan jalan kebanyakan ulama. Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki juga turut tidak ketinggalan. Beliau bermusafir sejak usia muda untuk menuntut ilmu dari mereka yang memiliki ilmu
Beliau telah bermusafir dengan banyak ke Afrika Utara, Mesir, Syria, Turki, dan rantau Indo-Pak untuk belajar dari alim-ulama yang hebat, bertemu para Wali Allah, menziarahi masjid-masjid dan maqam-maqam, serta mengumpulkan manuskrip-manuskrip dan kitab
Di setiap tempat ini beliau menemui para ulama dan auliya yang agung, dan mengambil faidah daripada mereka. Mereka juga turut tertarik dengan pelajar muda dari Makkah ini dan memberi perhatian istimewa untuk beliau
Kebanyakan mereka telah pun sangat menghormati bapa beliau yang alim, dan merupakan satu kebanggaan memiliki anak beliau sebagai murid
Ijazah-Ijazah
Sistem pengajian yang menjaga tradisi yang berdasarkan kepada ijazah atau "ijin" untuk menyampaikan ilmu; bukan semua orang boleh mengajar. Hanya mereka yang memiliki ijazah yang diberikan oleh alim-ulama yang telah termashyur keilmuannya saja yang boleh mengajar
Setiap cabang pengetahuan dan setiap kitab Hadits, Fiqh, Tafsir dan lain-lain, mempunyai Sanad-sanad, atau rantaian riwayat yang bersambung sehingga kepada penyusun kitab tersebut sendiri melalui anak-anak murid mereka
Banyak sanad-sanad yang penting, seperti sanad Al-Qur'an, Hadits dan Tasawwuf bersambung sehingga kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam
Setiap cabang pengetahuan dan setiap kitab Hadits, Fiqh, Tafsir dan lain-lain, mempunyai Sanad-sanad, atau rantaian riwayat yang bersambung sehingga kepada penyusun kitab tersebut sendiri melalui anak-anak murid mereka
Banyak sanad-sanad yang penting, seperti sanad Al-Qur'an, Hadits dan Tasawwuf bersambung sehingga kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki mendapat penghormatan dengan menjadi Ulama dengan bilangan ijazah terbanyak di masanya. Beliau juga memiliki rantai sanad terpendek atau terdekat dengan datuknya, nabi Muhammad SAW
Di Tanah Arab, tanah kelahirannya, dan dalam pemusafiran ilmunya, Abuya Sayyid Muhammad mendapat lebih dari 200 ijazah dari alim-ulama teragung di zamannya, di setiap cabang ilmu Islam.
Ijazah beliau sendiri, yang beliau berikan kepada murid-muridnya adalah antara yang paling berharga dan jarang di dunia, menghubungkan anak-anak muridnya dengan sejumlah besar para ulama agung. Para Masyaikh yang memberikan Abuya Sayyid Muhammad ijazah-ijazah mereka merupakan ulama besar dari seluruh dunia Islam
Aktifitas Mengajar
Sayyid Muhammad Alawi, sebagaimana tradisi Masayikh yang lain, juga seperti keturunannya sebelum beliau, mengajar hanya karena Allah dan tidak mengharapkan keuntungan material langsung
"Surga itu tidak gratis Belilah surga itu dengan hartamu, amalmu, dan dengan tenagamu"
Beliau menempatkan sejumlah besar pelajar di rumahnya sendiri, menyediakan untuk mereka makan minum, penginapan, pakaian, kitab-kitab serta segala keperluan mereka
Sebagai balasan, mereka hanya diminta mengikuti peraturan dan etika penuntut ilmu agama yang suci. Pelajar-pelajar ini biasanya menetap bersama beliau bertahun-tahun lamanya, mempelajari pelbagai cabang ilmu Islam, dan seterusnya kembali ke negeri masing-masing
Ratusan dari para pelajar telah menuntut ilmu kepada beliau dan telah menjadi pelopor pengetahuan Islam dan kerohanian di negara mereka, terutamanya di Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman dan Dubai
Sepulang dari Al Azhar, Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki dilantik sebagai Profesor Pengajian Islam di Universitas Ummul Quro di Makkah, sejak tahun 1970. Pada tahun 1971, ketika ayahanda beliau meninggal dunia, para ulama Makkah meminta beliau untuk menggantikan tempat ayahandanya sebagai guru di Masjidil Haram
Beliau menerimanya lantas menduduki kedudukan yang telah diduduki oleh keluarganya lebih dari seabad. Beliau juga kadang kala mengajar di masjid nabi di Madinah. Kuliah pengajian beliau merupakan kuliah yang paling ramai dihadiri di kedua Tanah Haram
Bagaimanapun pada awal tahun 80-an, beliau telah mengosongkan kedudukan mengajarnya di Universitas Ummul Qura juga di Masjidil Haram, hal ini disebabkan fatwa dari sebagian ulama Fanatik WAHHABI, yang menganggap keberadaan beliau sebagai ancaman kepada ideologi dan kekuasaan mereka
Sejak itu, beliau mengajar kitab-kitab agung Hadits, Fiqh, Tafsir dan Tasawwuf di rumah di Jalan Al-Maliki di sistrik Rusayfah, Makkah. Kuliah-kuliah umumnya antara waktu maghrib dan Isya dihadiri tidak kurang 500 orang setiap harinya
Banyak pelajar dari Universitas disana menghadiri pengajian beliau di waktu malam. Sehingga malam sebelum beliau meninggal dunia, majlisnya dipenuhi penuntut ilmu
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki sangat dihormati oleh Kerajaan Arab Saudi dan selalu diminta nasihatnya oleh Raja Saudi dalam urusan-urusan yang penting
Beliau juga dilantik sebagai ketua dewan juri dalam Musabaqah Qur'an antar bangsa di Makkah selama tiga tahun berturut-turut
Banyak pelajar dari Universitas disana menghadiri pengajian beliau di waktu malam. Sehingga malam sebelum beliau meninggal dunia, majlisnya dipenuhi penuntut ilmu
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki sangat dihormati oleh Kerajaan Arab Saudi dan selalu diminta nasihatnya oleh Raja Saudi dalam urusan-urusan yang penting
Beliau juga dilantik sebagai ketua dewan juri dalam Musabaqah Qur'an antar bangsa di Makkah selama tiga tahun berturut-turut
Karya Dan Tulisan
Sayyid Muhammad merupakan seorang penulis yang menghasilkan hampir seratus (100) buah kitab. Beliau telah menulis dalam pelbagai topik agama, undang-undang, sosial serta sejarah.
Kebanyakan bukunya dianggap sebagai rujukan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia
Kebanyakan bukunya dianggap sebagai rujukan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia
Figur Seorang Murobbi (Pendidik)
Abuya Sayyid Muhammad Alawi merupakan seorang Murobbi yang mengajarkan islam dan pembimbing jiwa yang sesungguhnya. Beliau telah bermusafir ke benua Asia, Afrika, Eropa dan Amerika, menyeru manusia ke arah kalimah Allah dan Rasul terakhir-Nya Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Di Asia Tenggara khususnya, Abuya Sayyid Muhammad secara pribadi telah membangun dan membiayai leibh 70 buah sekolah Islam untuk melawan Kristenisasi. Sejumlah besar penganut Kristen dan Budha telah memeluk Islam di tangannya hanya setelah melihat "Nur Muhammad" yang bersinar di wajahnya
Di Asia Tenggara khususnya, Abuya Sayyid Muhammad secara pribadi telah membangun dan membiayai leibh 70 buah sekolah Islam untuk melawan Kristenisasi. Sejumlah besar penganut Kristen dan Budha telah memeluk Islam di tangannya hanya setelah melihat "Nur Muhammad" yang bersinar di wajahnya
Kemana saja beliau pergi, para pemimpin, ulama dan masyarakat di tempat tersebut akan menyambutnya dengan penuh meriah. Beliau seringkali memberi ceramah kepada ratusan ribu manusia
Beliau amat disayangi dan dicintai oleh Muslimin di seluruh dunia, bukan saja karena beliau keturunan Rasulullah, tetapi juga karena ilmunya yang luas, hikmahnya, akhlak serta watak kerohaniannya. Beliau juga amat terkenal amat pemurah dengan ilmu, kekayaan dan masanya
Metode Dakwah & Pendekatan Ummat
Abuya Sayyid Muhammad Alawi mengikuti dan menelusuri tradisi arus utama dan majoritas dalam Islam, jalan Ahlu Sunnah Waljamaah, jalan toleransi dan sederhana, pengetahuan dan kerohanian, serta kesatuan dalam kepelbagaian. Beliau percaya kepada prinsip berpegang dengan empat mazhab yang mashur tetapi tanpa fanatik
Beliau mengajarkan rasa hormat kepada ulama dan aulia yang agung. Beliau menentang sikap sewengan-wenang yang mengatakan muslim lain sebagai Kafir dan Musyrik, yang telah menjadi tanda dan sifat utama sebagian kelompok di waktu terakhir ini
Beliau amat menentang dan kritis terhadap mereka yang digelari reformis (Islah) abad ke-20 yang dengan mudah ingin menghapuskan Islam generasi terdahulu menggunakan nama Islam suci
Beliau juga memahami bahwa "mencela" penganut Ash'ari, atau penganut Hanafi, Syafi'e dan Maliki, penganut sufi, seperti yang dilakukan oleh sebagian kelompok di jaman ini adlah sama dengan mencela keseluruhan umat Islam ribuan tahun yang lampau. Itu hanya merupakan sifat pendekatan musuh Islam, dan bukannya saudara sesama muslim
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki juga amat mempercayai bahwa ulama ulama Mazhab yang agung mengikuti Sunni-Sufi sejak beratus tahun yang lalu, adalah penghubung kita kepada Al-Quran dan Assunnah, dan bukanlah penghalang antara keduanya dengan kita, seperti yang dipercayai sebagian pihak yang mengaku memurnikan ajaran Islam
Pemahaman yang benar berkenaan Al-Quran dan Sunnah ialah pemahaman yang berdasarkan kepada tafsiran para ulama islam, dan bukan dengan prasangka kelompok yang ekstrim di zaman modrn ini, yang tidak berpikir dua kali sebelum mencela mayoritas Muslim di seluruh dunia
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki juga berpendapat mayoritas umat ini adalah baik. Kelompok kelompok minoritas yang fanatik dengan pemikiran kelompoknya saja yang perlu mengkaji kembali pemahaman ekstrim mereka
Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani merupakan pendukung sufi yang berdasarkan syariah, sufi para Auliya' agung dan para shalihin dari umat ini. Beliau sendiri merupakan guru ruhani di tingkat yang tertinggi, melalui para masyaikh thariqah yang agung.
Beliau turut mempercayai bahwa membaca dzikir, secara sendiri atau berkelompok, adalah bagian penting dalam kerohanian seseorang. Semua murid-murid beliau diharuskan bertahajjud dan membaca wirid pada pagi dan petang hari
Sayyid Muhammad juga menganjurkan ummat Islam perlu menggunakan segala upaya untuk meningkatkan taraf umat ini dari sisi kerohanian, kemasyarakatan dan juga material
Umat ini hendaknya tidak membuang masa masa yang berharga dengan bertikai pada perkara-perkara kecil. Beliau percaya seorang muslim tidak seharusnya mencela satu sama lain dalam perkara yang menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, mereka sebaliknya harus bahu membahu untuk memerangi apa yang telah disepakati sebagai kejahatan dan dosa
Pandangan dan pendirian Sayyid Muhammad ini digambarkan dalam tulsannya yang terkenal, Mafahim Yajib An Tusahhah (Paham Yang Perlu Diluruskan), sebuah buku yang mendapat penghargaan secara luas di selruuh dunia Islam dan diiktiraf tinggi di lingaran para ulama
Penutup
Tidak diragukan lagi, kehadiran Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani merupakan rahmat buat ummat ini. Beliau merupakan warisan kekasih kita nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam
Masyarakat Makkah dan madinah teramat mencintai beliau seperti mana dilihat pada saat mensolati jenazah beliau
Siapa saja yang pernah menemui beliau akan jatuh cinta kepada beliau. Rumahnya di kota suci Makkah senantiasa terbuka sepanjang tahun untuk ulama dan para penuntut ilmu, juga ribuan orang yang ingin berziarah kepadanya
Beliau juga tidak kenal arti takut dalam berkata yang benar dan telah mengalami detik-detik kesulitan karean kebenaran. Walau bagaimanapun pertolongan Allah senantiasa menyertai beliau. RadhiAllahu Anhu WaArdhaah. Amiin
Biografi dari kehidupan Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani ini bisa dirujuk pada tulisan yang hebat berjudul, Al-Maliki'Alim Hijjaz, karangan penulis dan sejarawan terkenal Makkah, Dr Zuhayr Kutbi
Wallahu A'lam. Wassallahu Ala Sayidina Rasulillah WaAla Alihi Wasohbihi Waman Walah,
Walhamdulillahi Rabbil'Alamin
Komentar
Posting Komentar